
arahinfo.com., Jumat, 31 Januari 2024, Keinginan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) menandai perubahan signifikan dalam arah kebijakan luar negerinya. Kelompok ini telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik yang semakin diperhitungkan, terutama dalam menantang dominasi Barat. Namun, di balik peluang yang ditawarkan BRICS, ada pula tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia.
Peluang bagi Indonesia Diversifikasi Ekonomi dan Investasi BRICS merupakan blok ekonomi yang menguasai lebih dari 40% populasi dunia dan menyumbang sekitar 30% PDB global. Bergabung dengan BRICS dapat membuka akses lebih luas bagi Indonesia ke pasar ekspor baru, terutama ke negara-negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Selain itu, keanggotaan BRICS bisa menjadi jalan bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi asing, khususnya dari Tiongkok dan India yang memiliki kapasitas ekonomi besar.
Kemandirian Finansial melalui Dedolarisasi
BRICS sedang mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara anggotanya, bahkan mempertimbangkan pembentukan mata uang bersama untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan mengurangi risiko terhadap fluktuasi nilai tukar akibat kebijakan moneter AS.
Peningkatan Peran Geopolitik
Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara memiliki peluang untuk meningkatkan pengaruhnya dalam percaturan geopolitik global. Dengan bergabung ke BRICS, Indonesia bisa lebih aktif dalam membentuk tatanan ekonomi dunia yang lebih multipolar dan tidak didominasi oleh kekuatan Barat.
Tantangan yang Harus Dihadapi
- Ketidakseimbangan Kekuatan dalam BRICS
Meskipun BRICS tampak sebagai aliansi negara berkembang, kenyataannya terdapat ketimpangan besar dalam kekuatan ekonomi dan politik antar anggotanya. Tiongkok dan India mendominasi, sementara Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan memiliki pengaruh yang lebih kecil. Indonesia harus memastikan bahwa kepentingannya tidak hanya menjadi pelengkap bagi agenda negara-negara besar di dalam BRICS. - Hubungan dengan Negara Barat
Indonesia selama ini memiliki hubungan baik dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Bergabung dengan BRICS bisa menimbulkan ketegangan dalam hubungan diplomatik, terutama jika Indonesia dianggap berpihak kepada poros yang berseberangan dengan kepentingan Barat, seperti Tiongkok dan Rusia. Indonesia harus bersikap hati-hati agar tetap menjaga keseimbangan dalam kebijakan luar negerinya. - Struktur dan Efektivitas BRICS
Berbeda dengan organisasi seperti G7 atau Uni Eropa, BRICS belum memiliki struktur kelembagaan yang solid. Kerja sama ekonomi dan politik di dalamnya sering kali lebih bersifat longgar dan berbasis kepentingan nasional masing-masing negara. Indonesia perlu memastikan bahwa keanggotaannya di BRICS benar-benar memberikan manfaat konkret, bukan sekadar formalitas diplomatik.
Bergabung dengan BRICS menawarkan peluang besar bagi Indonesia dalam hal ekonomi, keuangan, dan geopolitik. Namun, tantangan yang menyertainya juga tidak bisa diabaikan. Indonesia harus memainkan peran cerdas dalam BRICS agar dapat mengambil manfaat maksimal tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi dan hubungan internasionalnya. Pada akhirnya, keputusan untuk bergabung atau tidak harus didasarkan pada kepentingan nasional jangka panjang yang berlandaskan prinsip keseimbangan dan kemandirian.
Indonesia dan BRICS: Peluang Baru atau Tantangan Baru?
Keinginan Indonesia untuk
bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) menandai perubahan signifikan dalam arah kebijakan luar negerinya. Kelompok ini telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik yang semakin diperhitungkan, terutama dalam menantang dominasi Barat. Namun, di balik peluang yang ditawarkan BRICS, ada pula tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia.
Peluang bagi Indonesia
Diversifikasi Ekonomi dan Investasi
BRICS merupakan blok ekonomi yang menguasai lebih dari 40% populasi dunia dan menyumbang sekitar 30% PDB global. Bergabung dengan BRICS dapat membuka akses lebih luas bagi Indonesia ke pasar ekspor baru, terutama ke negara-negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Selain itu, keanggotaan BRICS bisa menjadi jalan bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi asing, khususnya dari Tiongkok dan India yang memiliki kapasitas ekonomi besar.
Kemandirian Finansial melalui Dedolarisasi
BRICS sedang mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara anggotanya, bahkan mempertimbangkan pembentukan mata uang bersama untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan mengurangi risiko terhadap fluktuasi nilai tukar akibat kebijakan moneter AS.
Peningkatan Peran Geopolitik
Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara memiliki peluang untuk meningkatkan pengaruhnya dalam percaturan geopolitik global. Dengan bergabung ke BRICS, Indonesia bisa lebih aktif dalam membentuk tatanan ekonomi dunia yang lebih multipolar dan tidak didominasi oleh kekuatan Barat.
Tantangan yang Harus Dihadapi
- Ketidakseimbangan Kekuatan dalam BRICS
Meskipun BRICS tampak sebagai aliansi negara berkembang, kenyataannya terdapat ketimpangan besar dalam kekuatan ekonomi dan politik antar anggotanya. Tiongkok dan India mendominasi, sementara Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan memiliki pengaruh yang lebih kecil. Indonesia harus memastikan bahwa kepentingannya tidak hanya menjadi pelengkap bagi agenda negara-negara besar di dalam BRICS. - Hubungan dengan Negara Barat
Indonesia selama ini memiliki hubungan baik dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Bergabung dengan BRICS bisa menimbulkan ketegangan dalam hubungan diplomatik, terutama jika Indonesia dianggap berpihak kepada poros yang berseberangan dengan kepentingan Barat, seperti Tiongkok dan Rusia. Indonesia harus bersikap hati-hati agar tetap menjaga keseimbangan dalam kebijakan luar negerinya. - Struktur dan Efektivitas BRICS
Berbeda dengan organisasi seperti G7 atau Uni Eropa, BRICS belum memiliki struktur kelembagaan yang solid. Kerja sama ekonomi dan politik di dalamnya sering kali lebih bersifat longgar dan berbasis kepentingan nasional masing-masing negara. Indonesia perlu memastikan bahwa keanggotaannya di BRICS benar-benar memberikan manfaat konkret, bukan sekadar formalitas diplomatik.
Bergabung dengan BRICS menawarkan peluang besar bagi Indonesia dalam hal ekonomi, keuangan, dan geopolitik. Namun, tantangan yang menyertainya juga tidak bisa diabaikan. Indonesia harus memainkan peran cerdas dalam BRICS agar dapat mengambil manfaat maksimal tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi dan hubungan internasionalnya.
Pada akhirnya, keputusan untuk bergabung atau tidak harus didasarkan pada kepentingan nasional jangka panjang yang berlandaskan prinsip keseimbangan dan kemandirian Keinginan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) menandai perubahan signifikan dalam arah kebijakan luar negerinya.
Kelompok ini telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan geopolitik yang semakin diperhitungkan, terutama dalam menantang dominasi Barat. Namun, di balik peluang yang ditawarkan BRICS, ada pula tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia.
*Peluang bagi Indonesia* *Diversifikasi Ekonomi dan Investasi* BRICS merupakan blok ekonomi yang menguasai lebih dari 40% populasi dunia dan menyumbang sekitar 30% PDB global. Bergabung dengan BRICS dapat membuka akses lebih luas bagi Indonesia ke pasar ekspor baru, terutama ke negara-negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Selain itu, keanggotaan BRICS bisa menjadi jalan bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi asing, khususnya dari Tiongkok dan India yang memiliki kapasitas ekonomi besar.
*Kemandirian Finansial melalui Dedolarisasi* BRICS sedang mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara anggotanya, bahkan mempertimbangkan pembentukan mata uang bersama untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan mengurangi risiko terhadap fluktuasi nilai tukar akibat kebijakan moneter AS.
*Peningkatan Peran Geopolitik* Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara memiliki peluang untuk meningkatkan pengaruhnya dalam percaturan geopolitik global. Dengan bergabung ke BRICS, Indonesia bisa lebih aktif dalam membentuk tatanan ekonomi dunia yang lebih multipolar dan tidak didominasi oleh kekuatan Barat.
*Tantangan yang Harus Dihadapi*
1. Ketidakseimbangan Kekuatan dalam BRICSMeskipun BRICS tampak sebagai aliansi negara berkembang, kenyataannya terdapat ketimpangan besar dalam kekuatan ekonomi dan politik antar anggotanya. Tiongkok dan India mendominasi, sementara Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan memiliki pengaruh yang lebih kecil. Indonesia harus memastikan bahwa kepentingannya tidak hanya menjadi pelengkap bagi agenda negara-negara besar di dalam BRICS.
2. Hubungan dengan Negara BaratIndonesia selama ini memiliki hubungan baik dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Bergabung dengan BRICS bisa menimbulkan ketegangan dalam hubungan diplomatik, terutama jika Indonesia dianggap berpihak kepada poros yang berseberangan dengan kepentingan Barat, seperti Tiongkok dan Rusia. Indonesia harus bersikap hati-hati agar tetap menjaga keseimbangan dalam kebijakan luar negerinya.
3. Struktur dan Efektivitas BRICSBerbeda dengan organisasi seperti G7 atau Uni Eropa, BRICS belum memiliki struktur kelembagaan yang solid. Kerja sama ekonomi dan politik di dalamnya sering kali lebih bersifat longgar dan berbasis kepentingan nasional masing-masing negara. Indonesia perlu memastikan bahwa keanggotaannya di BRICS benar-benar memberikan manfaat konkret, bukan sekadar formalitas diplomatik.Bergabung dengan BRICS menawarkan peluang besar bagi Indonesia dalam hal ekonomi, keuangan, dan geopolitik.
Namun, tantangan yang menyertainya juga tidak bisa diabaikan. Indonesia harus memainkan peran cerdas dalam BRICS agar dapat mengambil manfaat maksimal tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi dan hubungan internasionalnya. Pada akhirnya, keputusan untuk bergabung atau tidak harus didasarkan pada kepentingan nasional jangka panjang yang berlandaskan prinsip keseimbangan dan kemandirian.
Penulis : Henda R. Editor : CHE